Jogja

RUMAH SAKIT JOGJA

RSUD Kota Yogyakarta

Tumbuh kembang anak usia 0 – 3 tahun: Kenali penyebab, deteksi dini dan penanganan

23 Jul 2025

Anak usia 0 – 3 tahun adalah periode emas (golden period) masa pertumbuhan dan perkembangan. Pada fase ini otak berkembang sangat pesat sehingga stimulasi yang tepat akan menentukan kecerdasan, kemampuan motorik, Bahasa serta sosio – emosional anak. Namun, pada beberapa anak mungkin saja mengalami gangguan tumbuh kembang yang jika tidak terdeteksi sejak dini dapt mempengaruhi masa depan mereka.

Di Indonesia, dari data Kemeterian kesehatan RI, 2023 tercatat 12 – 15% anak mengalami keterlambatan perkembangan. Sedangkan data SSGI 2022 menyebutkan 1 dari 5 anak dibawah 5 tahun mengalami stunting (21,6%), dan data dari IDAI, 2023, 5-10% anak mengalami gangguan spektrum autism. Angka ini di ikuti juga dengan data di Dinas Kesehatan DIY, 2023 yang mencatat ada 10,8% balia di DIY mengalami stunting dan 8-12 % anak usia dini mengalami keterlambatan bicara (RSUP Dr. Sardjito, 2023).

Beberapa factor dapat menyebabkan terjadinya gangguan tumbuh kembang pada anak. Pertama, factor biologis seperti kelahiran premature atau berat badan lahir rendah (BBLR), gangguan genetic seperti down syndrome dan cerebral palsy ataupun karena infeksi saat kehamilan akibat virus (TORCH, HIV). Kedua, factor gizi seperti kekurangan gizi kronis (stunting) oleh akibat asupan protein dan mikronutrien yang kurang serta adanya anemia defisiensi besi yang dapat mengganggu perkembangan otak., Ketiga, factor lingkungan bisa karena kurangnya stimulasi (anak jarang diajak berinteraksi, bermain atau jarang diajak berbicara), paparan gadget berlebihan yang dapat menghambat perkembangan Bahasa dan sosial serta kemungkinan adanya trauma atau kekerasan dalam pola pengasuhan.

Orangtua atau orang terdekat anak bisa melakukan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak dan mendeteksi permsalahan tumbuh kembang anak  fengan menggunakan kuesioner pra skrining perkembangan (KPSP) dari Kementerian Kesehatan atau menggunakan Denver Development Screening Test (DDST).

Beberapa tanda keterlambatan perkembangan anak, semisal usia anak 0-12 bulan anak tidak merespon terhadap suara, tidak bisa tengkurap atau tidak bisa memegang benda. Anak usia 1-2 tahun tidak bisa berjalan, tidak bisa mengucapkan kata sederhanan missal mama, papa. Usia 2-3 tahun anak tidak bisa menyusun kalimat dua kata, tidak bisa menendang bola atau sulit berinteraksi dengan anak yang lain.

Selain gangguan perkembangan, ada beberapa tanda gangguan perilaku anak berupa autism dan ADHD yang terlihat pada anak sperti tidak ada kontak mata, terlambat bicara atau tidk responsive saat dipanggil, perilaku repetitive (bergoyang – goyang atau mengulang – ulang gerakan.

Permasalahan gangguan pertumbuhan dan perkembangan membuuhkan penanganan atau intervensi. Pertama, lakukan deteksi dini dan skrining  dengan rutin datang ke [posyandu, fasilitas kesehatan atau berkonsultasi dengan dokter anak. Jnagan lupa gunakan buku kesehatan ibu dan anak (KIA) guna memantau perkembangan anak. Kedua, intervensi nutisi. Berikan ASI eksklusif hingga  6 bulan dan MPASI bergizi tinggi yang cukup protein, zat besi dan zinc serta suplemen vitamin A dan tambahan zat besi bila diperlukan. Ketiga, terapi stimulasi berupa terapi wicara untuk gangguan bicara, fisioterapi untuk gangguan motorik dan okupasi terapi untuk anak dengan gangguan perilaku autism atau hiperaktif. Keempat, dukungan keluarga dan lingkungan. Orangtua harus sabar dan konsisten dalam stimulasi, Batasi pemakaian gadget tau televisi maksimal 1 jam perhari dan ajak anak untuk bermain lebih interaktif seperti melihat buku bergambar, puzzle dan bernyanyi.

Bagi orang tua atau orang terdekat anak, untuk meminimalkan permaslahan atau gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak bisa melakukan hal berikut ini: pertama, pantau perkembangan anak secara rutin, segera konsultasikan kepada tenaga kesehatanjika di temui adnya keterlambatan atau gangguan perkembangan kedua, berikan perhatian, kasih sayang dan stimulasi yang cukup, ajak anak mengobrol sejak bayi, bacakan buku cerita dan lebih sering bermain bersama anak. Keiga, hindari bermain gadget berlebihan. Keempat, berikan dukungan pada anak yang berkebutuhan khusus, jangan diskriminatif, berikan akses terapi dan Pendidikan inklusif, jika perlu bergabunglah dengan komunitas orangtua dengan anak berkebutuhan khusus agar bisa saling sharing proses pengasuhan. Kelima, manfaatkan layanan kesehatan gratis di posyandu, puskesmas, fasilitas kesehatan lainny atau ikuti program pemerintah seperti Bina Keluarhga Balita (BKK).

Sangat penting untuk dipahami, bahwa setiap anak berhak tumbuh optimal. Dengan deteksi dini, nutrisi baik, dan stimulasi tepat, gangguan tumbuh kembang anak dapat diminimalkan. Orangtua adalah aktor utama dalam memastikan anak bertumbuh dan berkembang dengan baik. 

(SKS)