Kanker payudara masih menjadi
momok kesehatan paling serius terutama bagi perempuan. Selain angka kejadian
yang tinggi, kanker payudara juga menjadi penyebab kematian tertinggi akibat
kanker yang terjadi pada perempuan. Di perkirakan ada 22.430 kematian akibat
kanker payudara di tahun 2022. Tren kanker payudara mayoritas (sekitar 70%)
datang berobat saat sudah berada di stadium lanjut (stadium III dan IV).
Bermula dari sel – sel di jaringan
payudara yang tumbuh secara abnormal dan tidak terkendali, sel ini dapat teraba
sebagai benjolan. Jika tidak segera ditangani, sel kanker dapat menyebar (metastasis)
ke bagian tubuh lain melalui jaringan limfa dan aliran darah. Perlu dipahami,
tidak semua benjolan di payudara adalah kanker, namun setiap benjolan harus
diperiksa untuk memastikan diagnosis yang tepat.
Deteksi dini dapat dimulai dengan
mengenali kondisi diri sendiri. Waspadai jika ada benjolan di payudara atau
ketiak yang teraba keras meskipun diawal tidak terasa sakit. Cermati juga
adanya perubahan ukuran, bentuk atau kontur payudara. Amati apakah ada cairan
yang spontan keluar dari puting payudara, terutama cairan bening atau darah. Lihat
apakah ada perubahan kulit payudara seperti kemerahan, berkerut seperti kulit
jeruk atau ada penebalan. Selain itu, lihat apakah puting payudara tertarik ke
dalam dan ada rasa gatal, nyeri atau rasa terbakar di area payudara.
Lakukan pemeriksaan payudara
sendiri (SADARI) secara rutin setiap bulan setelah masa menstruasi selesai dan
pemeriksaan peyudara klinis (SADANIS) oleh tenaga medis setidaknya sekali
setahun.
Terpenting sebagai upaya pencegahan adalah menerapkan pola hidup sehat, pertahankan berat badan ideal, aktifitas fisik 30 menit sehari, hindari rokok dan alkohol serta konsumsi makanan bergizi seimbang, perbanyak serat dari buah dan sayur, serta batasi lemak jenuh.
(SKS).