Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan mencatat adanya
peningkatan signifikan perawatan penyakit ginjal kronis pada tahun 2024. Data
Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa pada tahun 2018, sekitar 739.200 jiwa
usia muda (3,8 per mil) telah didiagnosis menderita penyakit ginjal kronis oleh
dokter. Yang
mengkhawatirkan, tren penyakit ginjal kronis yang semula paling dominan
diderita oleh usia lanjut, kini bergeser ke kelompok usia produktif.
Bukan
menjadi rahasia lagi bahwa kerusakan organ tubuh bisa dipicu dari buruknya
perilaku hidup seseorang. Demikian halnya dengan keruskan dan kegagalan fungsi
organ ginjal. Berikut in beberapa penyebab dan perilaku buruk yang berisiko dan
dapat merusak ginjal. Pertama, konsumsi makanan dan minuman tidak
sehat. Kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman tinggi gula menjadi salah
satu faktor utama pemicu gagal ginjal di usia muda. Minuman bersoda, energy
drink, dan makanan manis lainnya yang dikonsumsi secara berlebihan dapat
menyebabkan diabetes yang pada akhirnya merusak ginjal . Penelitian menunjukkan
bahwa mengonsumsi minuman bersoda 1-2 kali sehari dalam waktu lama dapat
meningkatkan risiko penyakit ginjal kronis. Makanan olahan yang tinggi natrium
dan fosfor juga berbahaya bagi ginjal. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa
asupan fosfor terlalu banyak dari makanan olahan dapat membahayakan kesehatan
ginjal dan tulang . Konsumsi garam berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah
yang pada akhirnya merusak pembuluh darah di ginjal.
Kedua, gaya hidup tidak aktif. Duduk terlalu lama atau malas bergerak (mager) ternyata juga dapat memengaruhi kesehatan ginjal. Meski mekanismenya belum sepenuhnya dipahami, gaya hidup sedentari dapat meningkatkan tekanan darah dan mengganggu metabolisme glukosa - dua faktor yang penting bagi kesehatan ginjal . Sebaliknya, olahraga teratur seperti jalan kaki 4-5 kali seminggu dapat membantu menjaga kesehatan jantung yang juga baik untuk ginjal. Namun perlu diingat, olahraga yang berlebihan justru bisa merugikan. Aktivitas fisik ekstrem dapat menyebabkan rhabdomyolysis, kondisi dimana jaringan otot yang rusak melepaskan protein ke dalam darah yang dapat melukai ginjal.
Ketiga,
kebiasaan merokok dan konsumsi alcohol. Seorang perokok aktif memiliki risiko 4 kali
lebih tinggi mengalami gagal ginjal. Nikotin pada rokok menyebabkan penyempitan
dan peradangan pada pembuluh darah, mengurangi aliran darah ke ginjal, dan
akhirnya merusak fungsi ginjal . Kombinasi antara merokok dan minum alkohol
bahkan dapat meningkatkan risiko penyakit ginjal kronis hingga lima kali lipat
dibandingkan orang yang tidak merokok atau minum alkohol. Minuman beralkohol
yang dikonsumsi berlebihan dapat melipatgandakan risiko penyakit ginjal kronis.
Alkohol mengganggu fungsi ginjal dalam menyaring darah dan menjaga keseimbangan
cairan tubuh.
Keempat,
kurang minum air putih. Banyak anak muda yang malas minum air putih, padahal aktivitas padat
dan olahraga berat membuat tubuh sangat membutuhkan hidrasi yang cukup.
Dehidrasi dapat menyebabkan penumpukan zat sisa metabolisme dan racun dalam
tubuh, berkontribusi pada pembentukan batu ginjal dan infeksi saluran kemih
yang pada akhirnya merusak ginjal.
Kelima,
penggunaan obat-obatan tertentu. Konsumsi obat pereda nyeri seperti ibuprofen, naproxen, dan aspirin
secara berlebihan dapat menghambat produksi prostaglandin yang membantu
mengatur aliran darah ke ginjal. Jenis obat ini juga dapat menyebabkan retensi
cairan yang mengganggu fungsi ginjal . Pada label kemasan obat Nonsteroidal
Anti-inflammatory Drugs (NSAID) terdapat anjuran untuk tidak mengonsumsinya
lebih dari 10 hari untuk mengatasi nyeri dan tiga hari untuk demam. Konsumsi
obat pereda nyeri seperti ibuprofen, naproxen, dan aspirin secara berlebihan
dapat menghambat produksi prostaglandin yang membantu mengatur aliran darah ke
ginjal. Jenis obat ini juga dapat menyebabkan retensi cairan yang mengganggu
fungsi ginjal . Pada label kemasan obat Nonsteroidal Anti-inflammatory Drugs
(NSAID) terdapat anjuran untuk tidak mengonsumsinya lebih dari 10 hari untuk
mengatasi nyeri dan tiga hari untuk demam .
Keenam,
faktor keturunan dan kondisi medis tertentu. Riwayat keluarga dengan penyakit ginjal,
diabetes, atau hipertensi meningkatkan risiko seseorang mengalami gagal ginjal
di usia muda. Beberapa kondisi medis seperti polycystic kidney disease (PKD),
hidronefrosis, atau ginjal tapal kuda juga dapat menyebabkan gagal ginjal pada
usia muda . Diabetes tipe 1 yang biasanya dipengaruhi faktor genetik dapat
berkembang menjadi nefropati diabetik jika tidak dikelola dengan baik. Penting
diingat, kesehatan adalah asset penting tak ternilai yang harus benar – benar
kita jaga dengan sebaik – baiknya. Perilaku yang kurang sesuai masih bisa
diperbaiki dan dibenahi, demi kesehatan mari jaga perilaku hidup kita dengan
baik dan sehat.
(SKS)