Kanker paru merupakan salah satu
jenis kanker yang paling mematikan, tidak hanya di dunia tetapi juga di
Indonesia. Penyakit ini sering kali baru terdeteksi pada stadium lanjut,
sehingga penanganannya menjadi lebih sulit. Di perkirakan ada 68.209 kasus baru
di tahun 2022 dengan angka kejadian pada laki – laki sebanyak 48.254 dan pada perempuan
19.955 kasus. Sedangkan angka kematian akibat kanker paru di tahun 2022 sebanyak
61.729 kematian.
Kanker paru terutama bermula di
saluran udara (bronchus) kemudian berkembang di jaringan paru tanpa terkendali
yang menyebabkan gangguan fungsi pernafasan. Selanjutnya sel kanker dapat
menyebar (metastasis) ke kelenjar getah bening dan organ lain seperti otak,
tulang dan hati.
Gejala kanker paru seringkali
tidak muncul sampai kanker berkembang ke stadium lanjut. Gejala yang perlu
diwaspadai seperti batuk menetap atau memburuk dan tidak kunjung sembuh, batuk
berdarah meskipun hanya sedikit, sesak nafas, nyeri dada dan suara serak yang
tak kunjung membaik. Selain itu, terjadi penurunan berat badan dan kehilangan
nafsu makan, mudah lelah dan lemah serta mengalami infeksi paru berulang (bronchitis
atau pneumonia).
Perlu kewaspaadaan ekstra ketika
seseorang adalah perokok aktif maupun pasif karena merokok merupakan factor risiko
terbesar (80-90%) dari kematian akibat kanker paru. Selain itu, para pekerja industri,
konstruksi, pelayaran, pertambangan dan pemadam kebakaran yang terpapar bahan berbahya
secara terus menerus (asbes, arsenic, nikel, kromium, tar). Paparan polusi
jangka panjang dari asap pembakaran kayu dan minyak untuk memasak juga perlu
diwaspadai. Perhatikan dan waspadai jika memiliki riawayat keluarga menderita
kanker paru atau memiliki riwayat radiasi di daerah dada pada pengobatan
limfoma atau kanker payudara. Risiko kanker paru meningkat seiring bertambahnya
usia.
Mari upayakan pencegahan bersama –
sama. Berhenti merokok atau jangan memulai untuk merokok, hindari asap rokok,
hindari karsinogen di tempat kerja (ikuti protokol keselamatan kerja dengan
ketat), konsumsi makanan kaya buah dan sayur serta aktifitas fisik teratur 150
menit perminggu.
Jangan tunggu sampai gejala
muncul. Kenali risiko Anda, lakukan perubahan gaya hidup, dan diskusikan opsi
skrining dengan tenaga medis. Langkah proaktif Anda hari ini dapat
menyelamatkan hidup di masa depan.
(SKS).